Labengki Sombori Touroleh Asik Travel

Orang Bajo di Sulawesi: Siapa Mereka, dan Cara Berkunjung Tanpa Mengganggu

Orang Bajo adalah masyarakat maritim terbesar yang tersisa di Asia Tenggara. Sejarah nyata, sains nyata, dan panduan jujur untuk mengunjungi kampung yang hidup.

Cottages with red roofs set back from a white sand beach, with a boat moored offshore
Waktu baca
7 mnt
Pulau
sombori
Trip yang cocok
Laguna dan Suku Bajo

Di sisi Sombori dalam rute kami ada kampung bernama Mbokita, dibangun di atas tiang di atas air. Hampir semua operator di kawasan ini mencantumkannya sebagai destinasi. Sangat sedikit yang mengatakan sesuatu yang benar tentang orang yang tinggal di sana.

Halaman ini adalah usaha menyajikan sejarah yang sebenarnya, sains yang sebenarnya, dan panduan jujur tentang cara bersikap ketika satu kapal penuh pengunjung tiba di lingkungan tempat tinggal orang.

Sebutan yang tepat

Anda akan menemukan beberapa nama. Bajo adalah ejaan yang lazim di Indonesia. Bajau lebih umum di Malaysia dan Filipina. Kalangan akademik umumnya memakai Sama-Bajau untuk kelompok yang lebih luas, karena orangnya sendiri sering memakai sebutan Sama.

Anda juga akan menemukan sebutan "gipsi laut", terutama dalam materi promosi wisata. Itu bukan istilah yang dipilih komunitasnya sendiri, ada nada merendahkan di dalamnya, dan kami tidak memakainya. "Pengembara laut" adalah frasa yang cenderung dipakai karya akademik dan setidaknya akurat tentang sejarahnya, meski sebagian besar orang Bajo hari ini tidak berpindah-pindah.

Asal usul mereka

Ini terdokumentasi lebih baik daripada yang disiratkan sebagian besar tulisan perjalanan.

Bukti kebahasaan menempatkan asal usul Sama-Bajau di Filipina selatan sekitar abad ke-9. Dari sana mereka menyebar ke selatan melalui Kepulauan Sulu dan menyusuri pesisir timur laut Kalimantan sekitar abad ke-11, mencapai Sulawesi sebelum abad ke-16 dan ke-17.

Cerita asal usul Bajo di Sulawesi sering menyebut Johor di semenanjung Malaysia sebagai tanah asal. Kalangan akademik memperlakukan cerita itu sebagai gambaran hubungan politik, bukan migrasi harfiah, dan itu pola yang cukup umum dalam mitos asal usul secara umum.

Catatan tertulis merekam mereka sejak awal. Bukti paling awal tentang Bajo di Sulawesi adalah penyebutan kelompok bernama Bajo Sereng, yang berarti Bajo Maluku, dalam kumpulan epos La Galigo dari Sulawesi Selatan, rujukan yang kemungkinan berasal dari abad keempat belas. Pada 1511 penulis Portugis Tome Pires mendokumentasikan kemungkinan keberadaan Bajo di kerajaan Gowa, di sekitar Makassar. Pada akhir 1670-an mereka sudah mencapai kawasan Manado di timur laut.

Detail yang sering diulang tentang orang Bajo mengumpulkan sisik penyu sebagai upeti kepada penguasa Gowa berasal dari catatan Belanda pada 1660-an, bukan dari catatan 1511. Keduanya terus tercampur dalam penceritaan ulang; keduanya sumber terpisah yang berjarak satu setengah abad.

A small island with a dense village along one shore, ringed by shallow reef

Apa yang sebenarnya mereka kerjakan

Versi romantisnya menggambarkan orang Bajo hanyut bebas melintasi laut yang kosong. Versi sejarahnya lebih menarik dan jauh lebih tidak pasif.

Orang Bajo adalah spesialis maritim di dalam ekonomi perdagangan. Mereka bekerja untuk kerajaan Gowa dan kemudian kerajaan Bugis Bone sebagai penjelajah, pembawa pesan, pelaut, dan pengumpul hasil laut. Perdagangan teripang dan sisik penyu mendorong persebaran mereka di kawasan ini selama tiga abad.

Dengan kata lain, ini kerja terampil di dalam jaringan dagang jarak jauh, bukan pengembaraan tanpa arah. Orang Bajo pergi ke tempat komoditasnya berada dan ke tempat penguasa yang menginginkannya mengirim mereka.

Keluarga tinggal di atas perahu rumah, naik ke darat terutama untuk berdagang, menguburkan orang yang meninggal, dan berlindung dari badai.

Kenapa sekarang mereka tinggal di rumah

Kebiasaan tinggal di perahu menurun setelah abad kesembilan belas, digantikan kehidupan yang berbasis darat. Hari ini sebagian besar orang Bajo tinggal di permukiman rumah panggung di atas perairan pesisir yang dangkal, dan persis itulah yang Anda lihat di Mbokita.

Perlu ditegaskan bahwa ini bukan sekadar pilihan gaya hidup. Penelitian tentang kawasan yang lebih luas menggambarkan tekanan politik dan ekonomi sejak masa kolonial yang mendorong pemukiman menetap, dengan pemindahan penduduk dipakai sebagai alat kendali negara. Kajian terbaru tentang komunitas Sama Bajo mendokumentasikan baik gangguan yang ditimbulkannya maupun strategi adaptasi yang dipakai komunitas sejak saat itu.

Sangat sedikit komunitas pengembara laut yang benar-benar masih berpindah di mana pun. Sama-Bajau digambarkan dalam literatur akademik sebagai yang terbesar di antara kelompok pengembara laut di kawasan ini, tetapi kehidupan di perahu rumah kini sebagian besar sudah menjadi sejarah, dan itu berakhir karena alasan yang tidak sepenuhnya menjadi pilihan mereka.

Penelitian tentang selam bebas

Inilah bagian yang paling layak diketahui, karena ini sains terbit yang nyata, bukan cerita rakyat.

Pada 2018 sebuah studi di jurnal Cell, dipimpin Melissa Ilardo, melaporkan bukti pertama adaptasi genetik manusia terhadap penyelaman. Peneliti membandingkan individu Bajo dengan orang Saluan, kelompok tetangga di Sulawesi yang hidup di darat, dan menemukan limpa orang Bajo secara median sekitar 50 persen lebih besar.

Ukuran limpa penting untuk selam bebas. Limpa yang lebih besar menyimpan lebih banyak sel darah merah beroksigen, yang dilepaskan saat respons menyelam, sehingga memperpanjang lama seseorang bisa bertahan di bawah air. Studi tersebut mengaitkan perbedaan itu dengan varian gen PDE10A, yang diduga memengaruhi kadar hormon tiroid.

Liputan media atas penelitian itu menyebut penyelam Bajo bekerja di kedalaman hingga sekitar 70 meter dengan pemberat dan kacamata kayu.

Dua hal mengikuti dari sini. Pertama, ini bagian biologi manusia yang benar-benar luar biasa dan pantas masuk dalam penjelasan jujur tentang komunitas ini. Kedua, ini bukan atraksi yang bisa diminta. Tidak ada seorang pun di Mbokita yang berutang peragaan kepada pengunjung.

A forested headland running down to calm water under a heavy cloudy sky

Mengunjungi Mbokita dengan baik

Mbokita adalah kampung yang hidup. Orang tinggal di sana, melaut dari sana, dan membuat perahu di sana. Ini bukan situs warisan budaya, tidak ada loket, dan tidak ada petugas yang bertugas.

Artinya dalam praktik:

  • Datang pada jam yang masuk akal. Bukan subuh, bukan saat waktu ibadah, bukan pada jam yang lebih cocok untuk sebuah foto daripada untuk orang yang tinggal di sana.
  • Minta izin sebelum memotret siapa pun, dan terima kalau jawabannya tidak. Ini terutama berlaku untuk anak-anak, yang paling banyak difoto dan paling sedikit dimintai izin dalam fotografi perjalanan.
  • Jangan memotret ke dalam rumah atau lewat pintu.
  • Belilah sesuatu kalau ada yang dijual. Itu cara paling langsung agar kunjungan Anda berarti bagi kampungnya.
  • Jangan membagikan permen atau uang kepada anak-anak. Itu menciptakan pola meminta-minta yang bertahan bertahun-tahun setelah kunjungan Anda.
  • Bawa kembali sampah Anda.
  • Jangan memperlakukan rumah orang sebagai pemandangan. Rumah panggung di atas air jernih memang bagus difoto dan sekaligus merupakan ruang depan rumah seseorang.

Tidak ada yang rumit dari semua ini dan tidak ada yang berbiaya. Versi yang lebih luas ada di berwisata dengan bertanggung jawab di Labengki.

Kunjungan kampung itu bukan apa

Ini bukan pertunjukan budaya. Tidak ada tarian yang disiapkan, tidak ada peragaan kerajinan, tidak ada makan siang di rumah adat yang diatur untuk tamu. Kalau itu yang Anda harapkan, Anda akan kecewa, dan kekecewaan itu kesalahan harapannya, bukan kesalahan Mbokita.

Yang sebenarnya: berjalan menyusuri kampung di atas jembatan kayu di atas air, dengan orang-orang menjalani harinya di sekitar Anda, dan kesempatan melihat bagaimana sebuah permukiman berfungsi ketika tidak punya jalan dan tidak punya tanah.

Pada perjalanan kami yang lebih pendek, Mbokita menjadi singgahan di antara singgahan lain. Pada trip lima hari Labengki dan Sombori ada waktu untuk melambat, dan itu pengalaman yang lebih baik untuk semua orang, termasuk untuk kampungnya.

Di atas air

Hubungan orang Bajo dengan terumbu di sini lebih panjang dan lebih berlapis daripada hubungan seorang pengunjung. Menangkap ikan di sini adalah mata pencaharian, bukan hobi, dan sebagian praktik penangkapan ikan di kawasan yang lebih luas ini sudah menimbulkan kerusakan nyata pada terumbu.

Kami tidak akan berdiri di luar sebuah kampung lalu berceramah tentang itu. Yang akan kami katakan, kerja konservasi di perairan ini, termasuk zona larang ambil kima di dekat Labengki Kecil, berfungsi karena masyarakat setempat menerima dan menegakkannya. Persetujuan masyarakatlah yang membuat kawasan lindung menjadi nyata, bukan sekadar garis di peta.

Stilt buildings and a walkway between sandbars and lagoons, with reef visible through the shallows

Pertanyaan umum

Apakah orang Bajo masih hidup berpindah-pindah? Hampir tidak ada lagi. Kebiasaan tinggal di perahu menurun setelah abad kesembilan belas dan sebagian besar orang Bajo kini tinggal di permukiman panggung di atas perairan dangkal. Masa berpindah-pindah itu sejarah, bukan kehidupan sekarang.

Benarkah mereka bisa menahan napas jauh lebih lama daripada orang lain? Ada penelitian terbit yang mendukung dasar fisiologisnya. Studi 2018 di jurnal Cell menemukan limpa orang Bajo sekitar 50 persen lebih besar dibanding kelompok tetangga yang hidup di darat, terkait dengan varian gen PDE10A. Limpa yang lebih besar menopang selam tahan napas yang lebih lama.

Apakah mengunjungi kampung Bajo bersifat eksploitatif? Bisa jadi, dan caranya yang menentukan. Datang dengan tenang, meminta izin sebelum memotret, berbelanja di tempat, dan tidak memperlakukan orang sebagai atraksi adalah pembeda antara kunjungan dan gangguan.

Bolehkah saya menyebut mereka gipsi laut? Tidak. Itu bukan sebutan mereka untuk diri sendiri dan bukan istilah yang netral. Bajo, Bajau, atau Sama-Bajau semuanya bisa dipakai.

Apakah orang Bajo di Mbokita berbahasa Inggris? Umumnya tidak. Pemandu Anda yang menerjemahkan. Beberapa kata dalam bahasa Indonesia sangat membantu dan dihargai jauh melebihi sefasih apa Anda mengucapkannya.

Apakah Mbokita ada di setiap itinerary? Mbokita bagian normal dari sisi Sombori dalam rute kami, tetap bergantung pada kondisi laut hari itu seperti destinasi lain. Letak geografisnya dibahas di gua dan laguna Sombori, dan destinasinya sendiri di bertemu orang Bajo di Mbokita.

Pertanyaan umum

Apakah orang Bajo masih hidup berpindah-pindah?
Hampir tidak ada lagi. Kebiasaan tinggal di perahu menurun setelah abad kesembilan belas dan sebagian besar orang Bajo kini tinggal di permukiman panggung di atas perairan dangkal. Masa berpindah-pindah itu sejarah, bukan kehidupan sekarang.
Benarkah mereka bisa menahan napas jauh lebih lama daripada orang lain?
Ada penelitian terbit yang mendukung dasar fisiologisnya. Studi 2018 di jurnal Cell menemukan limpa orang Bajo sekitar 50 persen lebih besar dibanding kelompok tetangga yang hidup di darat, terkait dengan varian gen PDE10A. Limpa yang lebih besar menopang selam tahan napas yang lebih lama.
Apakah mengunjungi kampung Bajo bersifat eksploitatif?
Bisa jadi, dan caranya yang menentukan. Datang dengan tenang, meminta izin sebelum memotret, berbelanja di tempat, dan tidak memperlakukan orang sebagai atraksi adalah pembeda antara kunjungan dan gangguan.
Bolehkah saya menyebut mereka gipsi laut?
Tidak. Itu bukan sebutan mereka untuk diri sendiri dan bukan istilah yang netral. Bajo, Bajau, atau Sama-Bajau semuanya bisa dipakai.
Apakah orang Bajo di Mbokita berbahasa Inggris?
Umumnya tidak. Pemandu Anda yang menerjemahkan. Beberapa kata dalam bahasa Indonesia sangat membantu dan dihargai jauh melebihi sefasih apa Anda mengucapkannya.
Apakah Mbokita ada di setiap itinerary?
Mbokita bagian normal dari sisi Sombori dalam rute kami, tetap bergantung pada kondisi laut hari itu seperti destinasi lain. Letak geografisnya dibahas di halaman gua dan laguna Sombori, dan destinasinya sendiri di halaman Mbokita.

Bacaan terkait